Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Terjerat Korupsi Rp 568 M

Gemilang karier seorang Karen Agustiawan sepertinya akan mengalami musibah besar. Tak main-main, perempuan berusia 59 tahun yang tercatat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina periode 2009-2014 itu resmi ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh Kejagung RI. Karen diduga kuat terkait kasus Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009 yang membuat negara merugi hingga Rp 568 miliar.

 

Kabar ini dibenarkan oleh M Rum selaku Kabuspenkum Kejagungdan berdasar Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018. Tak hanya Karen, Genades Panjaitan (GP) selaku Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina juga jadi tersangka, seperti dilansir CNN Indonesia.

 

Sejauh ini penyidik Kejagung sudah memeriksa 67 saksi dan telah metapkan mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina dengan inisial BK sebagai tersangka pula. Bicara mengenai kasus yang menjerat Karen, ternyata terendus pada tahun 2009 saat Pertamina mengakuisisi dengan membeli sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di lapangan BMG Australia.

 

Kasus ini tentu cukup mengejutkan karena sebelumnya Karen meraih berbagai pujian karena menjadi perempuan pertama yang jadi pemimpin Petamina sepanjang sejarah Indonesia. Alumni teknik fisika ITB ini memulai karier di Mobil Oil Indonesia dan Halliburton Indonesia sebelum akhirnya bergabung ke Pertamina sebagai staf ahli Dirut Pertamina, Ari H Soemarno. Selama kepemimpinanya di BUMN Migas pelat merah itu, Karen bekerja sama dengan PT PLN untuk menggunakan bio-etanol sebagai pengganti solar.

 

Kronologi Karen Terjerat Korupsi

 

Bicara mengenai kasus korupsi yang menjerat Karen, tim penyidik jaksa menemukan fakta kalau proses jual beli aset milik ROC Oil Company Ltd itu menyimpang karena tak sesuai dengan pedoman investasi. Bahkan Pertamina diduga tidak melakukan kajian kelayakan terlebih dulu seperti kajian secara lengkap akhir (Final Due Dilligence). Tak cuma itu saja, pembelian aset ROC itu rupanya tak mendapat restu dari Dewan Komisaris Pertamina.

 

Hal itu membuat biaya yang dikeluarkan sama sekali tak menguntungkan Pertamina. Hal ini terdengar miris karena sebetulnya dana miliaran rupiah itu digelontorkan Pertamina demi menambah cadangan dan produksi minyak nasional.

 

Karen Pernah Diperiksa Atas Kasus Jual Tanah

 

Sementara itu dari penelusuran yang ada, sebetulnya ini bukan pertama kali bagi Karen terjerat kasus. Ibu tiga orang anak ini bahkan pernah diperiksa terkait kasus jual tanah pada akhir Juli 2017. Saat itu Karen bahkan sudah diperiksa oleh Direktorat Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri. Tak sendiri, Karen dipanggil bersama Waluyo, mantan Direktur Umum dan SDM PT Pertamina.

 

Dalam kasus itu, Karen memang tidak ditetapkan sebagai tersangka karena sang pesakitan adalah Gathot Harsono. Gathot sendiri adalah Senior Vice President of Asset Management PT Pertamina yang sudah jadi tersangka sejak pertengahan Juni 2017. Kasus ini bermula saat Pertamina menjual tanah seluas 1.088 meter persegi di kawasan Simprug kepada seorang Mayor Jenderal Purnawirawan TNI berinisial HS dengan harga Rp 1,16 miliar pada tahun 2011. Harga ini tentu jauh di bawah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah yang mencapai Rp 9,65 miliar.

Tak berhenti di situ ternyata aset negara itu dijual kembali dalam waktu 2,5 bulan dengan harga Rp 10,49 miliar. Akhirnya permainan jual beli tanah togel online itu dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 10 April 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *